Minyak pelumas digunakan
untuk melumasi mesin dan memastikan bahwa mereka dilindungi terhadap keausan, karat, kontaminan dan faktor-faktor yang tidak diinginkan lainnya yang dapat
memperpendek umur mesin. Ada produk pelumas yang berbeda
untuk setiap jenis mesin. Minyak pelumas saat ini terdiri
dari bahan yang berbeda dan merupakan bagian dari proses. Ketika minyak
bumi pertama
kali didapatkan
kemudian difraksinasi atau dipisahkan
menjadi komponen
yang berbeda menggunakan alat
distilasi. Proses
distilasi mengambil minyak dan memanaskannya, biasanya dengan suhu beberapa ratus derajat atau lebih tinggi. Hal ini menyebabkan minyak memisahkan berdasarkan komponennya. Komponen yang paling ringan naik ke atas dengan
gas menjadi hidrokarbon tertinggi dan lebih
ringan.
Unsur-unsur murni digunakan
untuk membuat
bensin, nafta dan produk minyak
bumi yang
sangat ringan. Unsur-unsur yang lebih
berat cenderung digunakan sebagai minyak gas berat atau
didaur ulang sebagai
residu. Pelumasan minyak - atau bahan
dasar -berada di suatu lapisan di tengah-tengah proses distilasi, cukup
rendah untuk dihitung dengan komponen yang berat, namun lebih ringan dari residu
atau
minyak gas berat. Karena bensin lebih berharga daripada minyak
pelumas, manufaktur mencoba untuk
mengalihkan sebagai komponen sebanyak yang mereka bisa
untuk membuat produk-produk bensin.
Setelah komponen minyak pelumas telah melalui beberapa proses
mereka siap untuk disempurnakan menjadi minyak dan siap digunakan.
Saat masih tercampur dengan minyak berat yang memiliki sejumlah besar kontaminan, termasuk lilin
dan hidrokarbon
tak jenuh
atau aromatik. Ini semua dihapus melalui proses yang berbeda, beberapa di antaranya membuat pelarut melalui teknik pemanasan atau penguapan dan lain-lain yang menggunakan pelarut kuat dan partikel yang tidak diinginkan.
Hydrotreating meningkatkan kualitas keseluruhan dari minyak dan
mengurangi sifat asam dan berbau. Langkah
terakhir adalah mencampurkan
dengan beberapa aditif yang
membantu minyak/oli pelumas melakukan tugasnya yang
dirancang untuk mesin atau kendaraan.
Prinsip-prinsip tentang pelumas
Ketika memilih pelumas, penting bagi Anda untuk mempertimbangkan
tingkat kekentalan (SAE grade) dan tingka tperforma (ACEA dan standar API).
Kekentalan
Tingkat SAE (Society of Automotive Engineers) menentukan fluiditas
pelumas pada suhu panas dan dingin. Pelumas akan bekerja efisien pada suhu -30°
C dan +40° C. Sebagai contoh: TOTAL Quartz INEO ECS SAE grade 5W30, menunjukkan
pada suhu dingin pelumas dapat bekerja pada kekentalan 5° C dan pada suhu
terpanas bekerja pada kekentalan 30° C. Metode ini juga digunakan untuk pelumas
lainnya: angka sebelum W (musim dingin) merupakan kekentalan pelumas bekerja pada
suhu rendah dan angka setelah W merupakan kekentalan pelumas bekerja pada suhu tinggi.
Performa
API (American Petroleum Institute) mengklasifikasikan pelumas
berdasarkan beberapa kriteria seperti detergensi, ketahanan pemakaian, anti
korosi serta menurut penggunaan dan kinerja mereka. Huruf S untuk pelumas yang
digunakan untuk mesin berbahan bakar bensin, sedangkan huruf C untuk mesin berbahan
bakar diesel. Semakin tinggi huruf alphabet maka semakin tinggi kualitas pelumas.
Misalnya, untuk mesin bensin antara API SE, API SF atau API SH, API SH adalah kualitas
yang paling baik.
Asosiasi Produsen Mobil Eropa telah mengembangkan standar di
bawah nama ACEA dalam bentuk kode (kategori/kelas). Terdapat 3 kategori ACEA
yaitu dua untuk kendaraan ringan (kategori A atau B untuk bensin atau
mesin diesel dan kategori C untuk bensin dan mesin diesel yang memenuhi standar
Euro 4), dan satu untuk mesin diesel industri khususnya truk (kategori E).
Oli
mobil tidak sama dengan oli motor. Oli motor dibuat khusus untuk motor karena kinerja
mesin motor lebih berat dari mesin mobil dan oli motor mengandung aditif khusus
anti selip kopling karena motor ( selain matic) menggunakan kopling basah.
Sedangkan oli mobil tidak ada aditif anti slip kopling karena menggunakan kopling
kering, sama seperti motor matic. Ciri utama pada kemasan oli motor memakai standarisasi
JASO ( Japan Automotive Standart Organization) dibuat lembaga di Jepang. Memang
untuk standar mesin motor. Jadi, kalau di situ tertera tulisan JASO-nya, misal
JASO MA maka itu memang rekomendasi untuk motor. Sedang yang tidak ada tulisan
JASO, hanya ACEA, API service atau ILSAC, maka itu oli untuk mobil.
Secara umum ada dua jenis oli yaitu mineral dan sintetik. Oli mineral, sesuai namanya, adalah oli dari minyak bumi yang telah dimurnikan. Sedang oli sintetik adalah hasil olahan laboratorium, tapi pada umumnya berbahan dasar dari minyak bumi juga. Campuran di antara keduanya disebut semi-sintetik. Terdapat satu jenis oli lagi yang biasanya digunakan hanya untuk keperluan khusus, yaitu oli sintetik-murni ( pure-synthetic) yang dibuat dari minyak nabati dan hewani. Oli sintetik murni ini memiliki senyawa Polyglycol dan tidak bias bercampur dengan oli mineral. Biasanya dipakai untuk pelumas motor balap. Berikut adalah karakteristik masing jenis oli.
Secara umum ada dua jenis oli yaitu mineral dan sintetik. Oli mineral, sesuai namanya, adalah oli dari minyak bumi yang telah dimurnikan. Sedang oli sintetik adalah hasil olahan laboratorium, tapi pada umumnya berbahan dasar dari minyak bumi juga. Campuran di antara keduanya disebut semi-sintetik. Terdapat satu jenis oli lagi yang biasanya digunakan hanya untuk keperluan khusus, yaitu oli sintetik-murni ( pure-synthetic) yang dibuat dari minyak nabati dan hewani. Oli sintetik murni ini memiliki senyawa Polyglycol dan tidak bias bercampur dengan oli mineral. Biasanya dipakai untuk pelumas motor balap. Berikut adalah karakteristik masing jenis oli.
·
Memberikan perlindungan dasar untuk sebagian
jenis mesin.
·
Harus lebih sering diganti ( biasanya sekitar
2000 km)
·
Harga relative murah Semi
Sintetik:
·
Perlindungan lebih bagus.
·
Mengurangi keausan mesin sampai 3 kali lebih
efektif.
·
Tidak perlu terlalu sering ganti oli (
sekitar 5000 km)
·
Harga lebih mahal dari Mineral dan lebih
murah dari Fully Sintetik.
Sintetik:
·
Lebih menghemat bahan bakar
·
Meningkatkan performa mesin
·
Melindungi mesin dari keausan dan residu
yang menumpuk
·
Lebih cepat melumasi bagian mesin yang bergerak
·
Harga mahal
Secara umum tingkat kekentalan untuk motor bila dilihat dari kondisi iklim di Indonesia, performa mesin dan hasil pengujian, idealnya dapat dibagi 4 jenis yaitu: SAE 20w 50, 10w 40, 15w 40, atau 15w 50.
SAE20w 50
Oli
mesin yang masih mampu dipakai sampai kondisi suhu dingin -10 sd -15 C ( kode
20w) dan pada suhu 150 c dengan tingkat kekentalan tertentu. Oli jenis ini
relative kurang efisien dalam pemakain BBM namun sangat baik dalam perlindungan
/ perawatan mesin, khususnya untuk kondisi jalan di Jakarta yang sering macet,
jarang berjalan jauh, polusi dan beban berat. Pada kondisi ini dikenal dengan
istilah“ boundary lubrication”, dimana pada kondisi tersebut lapisan oli sangat
tipis diantara celah mesin yang cenderung berpotensi terjadinya kontak antara logam
dengan logam. Oli jenis ini relatif paling kecil nilai viskositas indeksnya (VI),
diantara 3 jenis oli lainnya (minimal untuk oli mineral/ semi sintetis 120, untuk.
sintetis 145). Semakin banyak aditiv viscosity index improver, semakin
sensitive oli / kurang baik buat mesin motor –utamanya terhadap stress di gear.
VI= ukuran kemampuan suatu oli mesin dalam menjaga kestabilan kekentalan oli mesin
dalam rentang suhu dingan sampai tinggi. Semakin tinggi VI semakin baik kestabilan
kekentalannya untuk oli mobil, VI tinggi akan sangat baik dimesin. Untuk motor bias
sebaliknya.
SAE 15w 50
Oli
mesin yang masih mampu dipakai sampai kondisi suhu dingin ( minus) -15 sd -20 C
(kode 15w) dan suhu 150c dengan tingkat kekentalan tertentu. Jenis oli relatif
sama dengan SAE 20w 50. Sedikit yang membedakan adalah sedikit lebih encer dan nilai
VI lebih tinggi dari 20w 50. (minimal untuk oli mineral 130, untuk sintetis
150) Semakin tinggi nilai VI artinya adalah semakin banyak pemakaian aditif peningkat
angka VI. Untuk motor hal ini sangat riskan. Aditifini relatif sensitive digunakan
untuk motor yang menyatukan oli mesin dan gigi (wet clutch). Artinya oli jenis
ini relatif lebih mudah berubah kekentalannya dibandingkan 20w 50. SAE10w 40 Oli
mesin yang masih mampu dipakai sampai kondisi suhu dingin -20 sd -25 C (kode
10w) dan suhu 150 C dengan tingkat kekentalan tertentu. Jenis Oli yang relative
paling encer diantaranya ke 3 jenis oli lainnya. Oli ini relatif paling irit
BBM, namun kurang baik dalam perlindungan mesin. Terutama pada kondisi jalan sering
macet dan beban berat. Relatif sama dengan SAE 15w 50, dalam hal pemakaian aditif
peningkat angka VI. (minimal untuk oli mineral 130, untuk sintetis 150). Semakin
banyak kandungan aditif peningkat angka VI, semakin besar kemungkinan peluang pecahnya
aditif VI-nya dan berubah kekentalannya. Ukuran perubahan kekentalan oli biasanya
dipakai batasan sampai 25-30% dari kekentalan awal/ oli baru.



Tidak ada komentar:
Posting Komentar